Waroeng Si Oppie terinspirasi dari kekayaan budaya suku Betawi, menyajikan makanan khas Betawi yang lezat serta perintilan lucu yang unik. Kami menawarkan hidangan tradisional dengan cita rasa autentik, serta barang-barang kecil yang menggemaskan. Waroeng Si Oppie hadir untuk memberikan pengalaman kuliner dan belanja yang menyenangkan di setiap kunjungan.
Check it out!
The school bazaar was held as part of the 9th grade practical exam. The practical exams we carry out are not
just bazaars, we also hold art performances for the subject arts and sports. The theme was chosen as
Nusantara, which means the name of the Indonesian archipelago. My group took a few days to figure out our
sub-theme, but in the end we decided on old school Jakarta. This bazaar material is a combination of all
subjects. The aim of this activity was to provide real life experience to the students in doing business,
working together in teams, solving problems, and get to know our culture more. This activity is designed so
that students can apply the material they have learned by managing their own booth. We sell various products
such as food and drinks, accessories, and many more. But there were some items that we didn't sell, and
ideas that didn't match our plans.
Our booth name was supposed to be “Cap Cicak”. We were inspired by a popular herbal drink brand “Cap Badak”.
We thought that name was easy to remember and creative because it rhymes. But a few of us thought that the
name was pretty gross because of the word “cicak” which translates to house lizard. So, we changed our name
to “Waroeng Si Oppie”. We thought that the name Waroeng Si Oppie was more presentable and less disgusting.
Waroeng means stall but uses the old Indonesian spelling. Meanwhile "Si Oppie" is the name of our mascot.
Oppie is a house lizard. We chose the lizard because it was inspired by the name of our old booth, namely
Cap Cicak. Other than that, we also think that lizards are funny and unique to be a mascot.
Since this is a collaboration of all subjects there are several subjects that require us to sell products
related to that subject matter. To be more specific there are three subjects which are science, civic
education, and arts. For science we were learning about biotechnology, so we needed to make one of our
products to be a biotechnology product. My group decided to sell organic paint for our paint by numbers. It
was made from pandan leaves and different types of flowers. Our civic education material is preserving
culture and tolerance. Each tribe in Indonesia has different traditional weapons. A traditional weapon
necklace was created to show tolerance and preserve different cultures in Indonesia. Lastly, for the art’s
material is Batik. So my group made a pouch with a batik pattern.
Our booths were designed around early November 2024. We designed a simple yet unique booth to attract
customers. Since our subtheme was old school Jakarta, we decided to add some ondel-ondel and Monas for our
photobooth. But, several changes were made to the booth decoration as the bazaar day approved. For example,
we add some windows for our photobooth, we also add some plants and fairy lights. The changes were done by
us because the decoration turned out to be too plain. Apart from that, we were just told the position of the
booth so there were several things that had to be changed.
Fast forward to January 2025 a few days before our bazaar. It was a crazy week. We were really busy with our
product and the decoration for our booth. When we saw our pre order, there were a lot of customers who
bought ice lollies. We thought that we needed to prepare another stock. So, additional stock of ice lollies
was prepared the night before the bazaar. On bazaar day, the ice lollies didn't freeze therefore we used the
ice box to freeze it. It’s a hectic day for us because there was a customer who ordered a lot of drinks. In
the end , a lot of profit was earned from the bazaar. The lesson I learned from this experience is that we
need to prepare well in advance. So that stuff like this won’t happen again.
Dalam era globalisasi yang terus berkembang pesat, keterampilan hidup yang adaptif dan beragam menjadi
suatu kebutuhan yang penting bagi individu, termasuk para siswa di tingkat pendidikan dasar dan
menengah. Perubahan yang terjadi dalam aspek ekonomi, sosial, dan teknologi menuntut generasi muda untuk
memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta mampu bekerja sama dengan baik. Salah satu upaya yang
dilakukan untuk menciptakan siswa yang berkompeten dan mampu menghadapi tantangan zaman adalah melalui
pendekatan pembelajaran inovatif seperti Integrated Learning (IL) atau pembelajaran terpadu.
Pembelajaran terpadu merupakan suatu metode belajar yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu menjadi
satu proyek atau kegiatan besar yang berkelanjutan. Hal ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami
teori yang diajarkan di dalam kelas, tetapi juga mampu menerapkannya dalam situasi dunia nyata. Dalam
proses ini, siswa dilatih untuk berperan aktif, baik secara individu maupun kelompok, dengan melibatkan
diri secara langsung dalam pengalaman belajar yang bermakna. Selain meningkatkan motivasi belajar,
pendekatan ini juga bertujuan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah,
berkomunikasi, serta bekerja sama dengan orang lain.
Salah satu contoh implementasi dari Integrated Learning di tingkat pendidikan menengah pertama adalah
proyek akhir berupa bazaar sekolah. Kegiatan ini diadakan sebagai bagian dari ujian praktik kelas 9 dan
menjadi wujud nyata dari penerapan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Proyek
bazaar tidak hanya melatih siswa untuk belajar mengenai dunia usaha, tetapi juga mengintegrasikan
berbagai mata pelajaran, seperti seni, sains, pendidikan kewarganegaraan, dan kewirausahaan. Dengan tema
Nusantara yang dipilih, siswa diajak untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia sembari
mengembangkan keterampilan hidup yang relevan.
Pelaksanaan bazaar ini mencakup beberapa tahap utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Selama
enam bulan, siswa terlibat aktif dalam merancang konsep bazaar, menentukan produk yang akan dijual,
menghias booth, hingga melakukan promosi dan penjualan pada hari pelaksanaan. Dalam proses ini, berbagai
keterampilan seperti manajemen waktu, berpikir kreatif, komunikasi efektif, serta pemecahan masalah
diuji dan diasah. Siswa juga dihadapkan pada tantangan nyata, seperti mengelola anggaran, menghadapi
permintaan pelanggan, serta mengatasi kendala teknis yang mungkin muncul selama kegiatan
berlangsung.
Melalui kegiatan bazaar ini, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman lebih mendalam tentang materi
pelajaran, tetapi juga pengalaman berharga yang dapat membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Proyek ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri, menanamkan nilai-nilai
disiplin, tanggung jawab, serta membangun kemandirian yang akan berguna bagi masa depan mereka. Dengan
demikian, pembelajaran terpadu memainkan peran penting dalam menciptakan generasi muda yang berdaya
saing dan siap menghadapi tantangan global.
Globalisasi telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan kita, mulai dari ekonomi,
teknologi, hingga pendidikan. Perkembangan pesat ini menuntut individu untuk memiliki keterampilan yang
luas dan adaptif agar dapat bersaing dalam era yang terus berkembang. Hal tersebut diharapkan dimiliki
oleh setiap siswi. Salah satunya diwujudkan melalui Integrated Learning/ pembelajaran terpadu. Mendorong
inovasi dalam murid di berbagai bidang.
Integrated Learning atau pembelajaran terpadu merupakan suatu model pendekatan belajar mengajar yang
memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik. Memungkin siswa/siswi baik
individu maupun kelompok berperan aktif melalui pengalaman langsung dalam proses belajarnya. Dengan ini
murid dapat meningkatkan motivasi belajarnya dan mengembangkan keterampilan berpikir yang kritis serta
kreatif.
IL ini berasal dari kurikulum terbaru, yaitu merdeka, yang melibatkan beberapa bidang studi menjadi
intermata pelajaran dan antar mata pelajaran. Memberikan kebebasan kepada pendidik dan peserta pendidik
sehingga mengembangkan model pembelajaran yang bervariasi dan inovatif, serta untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran.
Sama dengan di Sekolah SMP Santa Ursula Jakarta. Salah satu contoh perwujudannya di kelas 9 ini adalah
proyek akhir berupa bazaar. Mulai dari persiapan, pelaksanaan hingga evaluasi laporan. Dalam menghadapi
IL ini, siswi akan melewati berbagai tantangan dan situasi-situasi yang mengasah keterampilan siswi.
Menjadi kesempatan bagi para murid untuk mengembangkan potensi dirinya dengan keterampilan hidup seperti
komunikasi, problem solving, manajemen waktu, berpikir kritis, kreatif dan kerja sama. Proyek ini
dilaksanakan selama 6 bulan dengan jadwal yang terstruktur. Mengasah siswi dalam keteladan dan
disiplin.
Dengan demikian, pembelajaran terpadu memiliki peran penting dalam mengembangkan keterampilan murid dan
potensi dirinya.
Adapun tujuan kami melaksanakan proyek pembelajaran terpadu ini sebagai berikut:
Adapun manfaat dari pelaksanaan proyek pembelajaran terpadu kami ini sebagai berikut:
Dalam projek IL ini, kami harus menyiapkan barang-barang produk yang akan kami jual untuk toko bazaar kami. Karena tema keseluruhan bazaar kami adalah Nusantara, dan tema yang kami pilih adalah Betawi, dengan ini kami memutuskan untuk menjual barang-barang yang memiliki nuansa Betawi dan disukai oleh para pembeli. Kami menjual jamu, es cendol, es lilin/monas frozen, jipang/rice krispies, klepon, roti buaya, kantong serut/kantong ajaib oppie, paint by numbers, dan kajineman. Dari total semua produk yang kami jual, kami menjual 4 jenis makanan, 2 minuman, serta 3 jenis barang yang memuat nuansa Betawi.
Setelah persiapan dan penantian panjang yang telah kami lalui selama beberapa bulan, akhirnya tiba
juga hari yang kami nantikan pada tanggal 16 Januari 2025! Beberapa hari sebelumnya, kami sepakat
untuk mengenakan kaos putih sebagai atasan dan kain batik lilit sebagai bawahan saat bazar. Pilihan
ini bukan hanya untuk menonjolkan budaya Indonesia melalui batik, tetapi juga agar tetap nyaman dan
leluasa bergerak saat berjualan. Di pagi hari yang ditunggu-tunggu itu, kami mendengar sebuah arahan
dari Pak Agus bahwa seluruh stand bazaar diperbolehkan untuk mulai melayani pelanggan pada pukul
11.00 WIB. Namun tidak disangka, sudah cukup banyak pengunjung yang berdatangan sejak sebelum pukul
11.00. Pengunjung yang berdatangan tersebut mayoritas adalah para adik kelas kami yang sedang
istirahat pertama pada pukul 09.00 WIB. Dengan berat hati, kami terpaksa untuk memberitahu mereka
bahwa untuk saat ini, transaksi belum dapat dilakukan dan meminta agar mereka dapat datang kembali
saat istirahat kedua.
Tibalah saat dimana booth kami sudah diperbolehkan untuk buka. Kami mulai melayani pelanggan dengan
ramah dan melakukan transaksi jual beli dengan mereka. Produk kami yang pertama kali terjual habis
atau sold out adalah Monas Frozen. Karena tingginya minat terhadap produk Monas Frozen, kami
terpaksa menolak beberapa pelanggan yang masih menanyakan ketersediaannya. Saat itu, produk tersebut
sudah habis terjual, dan kami masih menunggu pengiriman stok terbaru dari salah satu anggota
kelompok kami yang bertugas untuk memproduksinya, yakni Grace. Selagi menunggu kedatangan stok
terbaru dari Monas Frozen, kami berusaha untuk mempromosikan produk kami yang lainnya. Kami
melakukan promosi dengan dua cara, yakni Soft Selling dan Hard Selling. Soft selling adalah strategi
pemasaran yang dilakukan secara halus dan persuasif tanpa menekan pelanggan untuk membeli produk,
seperti menjawab pertanyaan pelanggan dengan ramah dan memberikan informasi tambahan tanpa
memaksakan penjualan. Sedangkan, hard selling adalah strategi pemasaran yang bersifat langsung,
tegas, dan cenderung menekan pelanggan untuk segera membeli produk, seperti berteriak di tengah
keramaian dengan kalimat promosi.
Dengan begitu, satu persatu dari produk kami mulai terjual habis. Namun, ketika seluruh produk kami
sudah berhasil terjual habis satu per satu, stok terbaru Monas Frozen yang kami tunggu-tunggu
akhirnya tiba. Tetapi, saat itu Pak Agus sudah memberikan arahan kepada seluruh peserta bazar untuk
mulai membereskan stand masing-masing. Meskipun waktu sudah menunjukkan bahwa bazar akan segera
berakhir, kami tidak langsung menyerah. Kami tetap mencoba menawarkan Monas Frozen kepada pengunjung
yang masih lalu-lalang di sekitar area bazar. Untungnya, banyak teman-teman kami yang mungkin merasa
lelah setelah berjualan, sehingga mereka menyerbu dan membeli monas frozen kami sampai terjual
habis.
Kami pun segera bergotong royong untuk membereskan stand setelah semua produk telah terjual habis.
Beberapa dari kami mulai mengemasi perlengkapan jualan, sementara yang lain membersihkan area
sekitar booth agar tidak meninggalkan sampah atau mengotori area sekolah. Meja-meja ditumpuk,
kursi-kursi disusun kembali, dan dekorasi mulai kami lepas satu per satu. Saat akhirnya semua
perlengkapan kembali tersusun rapi dan area booth kami benar-benar bersih, kami pun bersiap - siap
untuk mengemas barang dan pulang ke rumah masing-masing. Meskipun melelahkan, namun kami bangga dan
bersyukur karena kami berhasil melewati serangkaian proses bazaar ini bersama.
Berdasarkan laporan yang sudah kami buat, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat
bagi kami. Kegiatan ini dapat meningkatkan keterampilan para siswi dalam komunikasi, memecahkan
masalah, manajemen waktu, berpikir kritis, kreativitas dan kerja sama. Melalui proyek IL ini, para
siswi juga dapat belajar tentang perencanaan produksi, promosi, dekorasi, serta pengelolaan booth
secara efektif.
Proyek Bazar ini tidak hanya memberikan dampak positif terhadap kami. Siswi kelas 9 mendapatkan
pengalaman langsung dalam mengelola usaha, sementara siswi kelas 8 dan 7 dapat terinspirasi untuk
mengenal budaya Nusantara lebih dalam lagi. Sekolah pun mendapatkan manfaat dengan melihat hasil
pembelajaran yang lebih nyata dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya melestarikan budaya di
lingkungan sekolah.
Walaupun ada beberapa tantangan saat pelaksanaan bazarnya, tetapi semua itu dapat diatasi dengan
kerja sama tim yang baik. Terbukti dengan banyak produk yang cepat habis. Dengan demikian bazar ini
berjalan dengan sukses. Kegiatan ini tidak hanya dapat membantu dalam pelajaran tetapi juga karakter
siswi.
Berdasarkan pelaksanaan bazar yang telah kami lakukan, terdapat hal yang ingin kami tingkatkan untuk kedepannya. Salah satunya komunikasi antar anggota kelompok agar koordinasi dalam persiapan dan pelaksanaan dapat berjalan lebih lancar. Dalam bazaar ini terdapat miskomunikasi antar anggota sehingga banyak masalah yang muncul. Dengan komunikasi yang baik, pembagian tugas akan lebih jelas dan mengurangi miskomunikasi. Tidak hanya komunikasi, pengaturan waktu juga perlu kami tingkatkan, baik dalam proses perencanaan, dekorasi booth maupun saat pelaksanaan bazar. Manajemen waktu yang baik akan memastikan seluruh tugas dapat diselesaikan dengan baik dan efisien serta mengurangi keterlambatan. Dengan meningkatkan komunikasi dan manajemen waktu, bazar dapat berjalan lebih baik.